21 Desember 2008

100 Langkah Menuju Sempurnanya IMAN


100 Langkah Menuju Sempurnanya IMAN

Berikut ini adalah 100 langkah agar kehidupan kita insya Allah akan lebih baik.
01. Bersyukur apabila mendapat nikmat;
02. Sabar apabila mendapat kesulitan;
03. Tawakal apabila mempunyai rencana/program;
04. Ikhlas dalam segala amal perbuatan;
05. Jangan membiarkan hati larut dalam kesedihan;
06. Jangan menyesal atas sesuatu kegagalan;
07. Jangan putus asa dalam menghadapi kesulitan;
08. Jangan usil dengan kekayaan orang;
09. Jangan hasud dan iri atas kesuksesan orang;
10. Jangan sombong kalau memperoleh kesuksesan;
11. Jangan tamak kepada harta;
12. Jangan terlalu ambisius akan sesuatu kedudukan;
13. Jangan hancur karena kezaliman;
14. Jangan goyah karena fitnah;
15. Jangan berkeinginan terlalu tinggi yang melebihi kemampuan diri;
16. Jangan campuri harta dengan harta yang haram;
17. Jangan sakiti ayah dan ibu;
18. Jangan usir orang yang meminta-minta;
19. Jangan sakiti anak yatim;
20. Jauhkan diri dari dosa-dosa yang besar;
21. Jangan membiasakan diri melakukan dosa-dosa kecil;
22. Banyak berkunjung ke rumah Allah (masjid);
23. Lakukan solat dengan ikhlas dan khusyu;
24. Lakukan solat fardhu di awal waktu, berjamaah dan di masjid;
25. Biasakan solat malam;
26. Perbanyak dzikir dan do'a kepada Allah;
27. Lakukan puasa wajib dan puasa sunat;
28. Sayangi dan santuni fakir miskin;
29. Jangan ada rasa takut kecuali hanya kepada Allah;
30. Jangan marah berlebih-lebihan;
31. Cintailah seseorang dengan tidak berlebih-lebihan;
32. Bersatulah kerana Allah dan berpisahlah kerana Allah;
33. Berlatihlah konsentrasi fikiran;
34. Penuhi janji apabila telah diikrarkan dan mintalah maaf apabila kerana sesuatu sebab tidak dapat dipenuhi;
35. Jangan mempunyai musuh, kecuali dengan iblis/syaitan;
36. Jangan percaya ramalan manusia;
37. Jangan terlampau takut miskin;
38. Hormatilah setiap orang;
39. Jangan terlampau takut kepada manusia;
40. Jangan sombong, takabur dan besar kepala;
42. Berlakulah adil dalam segala urusan;
43. Biasakan istighfar dan taubat kepada Allah;
44. Bersihkan rumah dari patung-patung berhala;
45. Hiasi rumah dengan bacaan Al-Quran;
46. Perbanyak silaturahim;
47. Tutup aurat sesuai dengan petunjuk Islam;
48. Bicaralah secukupnya;
49. Beristeri/bersuami kalau sudah siap segala-galanya;
50. Hargai waktu, disiplin waktu dan manfaatkan waktu;
51. Biasakan hidup bersih, tertib dan teratur;
52. Jauhkan diri dari penyakit-penyakit batin;
53. Sediakan waktu untuk santai dengan keluarga;
54. Makanlah secukupnya tidak kekurangan dan tidak berlebihan;
55. Hormatilah kepada guru dan ulama;
56. Sering-sering bershalawat kepada nabi;
57. Cintai keluarga Nabi saw;
58. Jangan terlalu banyak hutang;
59. Jangan terlampau mudah berjanji;
60. Selalu ingat akan saat kematian dan sedar bahawa kehidupan dunia adalah kehidupan sementara;
61. Jauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat seperti bersembang pada perkara yang tidak berguna;
62. Bergaullah dengan orang-orang soleh;
63. Sering bangun di penghujung malam, berdoa dan beristighfar;
64. Lakukan ibadah haji dan umrah apabila sudah mampu;
65. Maafkan orang lain yang berbuat salah kepada kita;
66. Jangan dendam dan jangan ada keinginan membalas kejahatan dengan kejahatan lagi;
67. Jangan membenci seseorang kerana fahaman dan pendirian;
68. Jangan benci kepada orang yang membenci kita;
69. Berlatih untuk berterus terang dalam menentukan sesuatu pilihan;
70. Ringankan beban orang lain dan tolonglah mereka yang mendapat kesulitan;
71. Jangan melukai hati orang lain;
72. Jangan membiasakan berkata dusta;
73. Berlakulah adil, walaupun kita sendiri akan mendapatkan kerugian;
74. Jagalah amanah dengan penuh tanggung jawab;
75. Laksanakan segala tugas dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan;
76. Hormati orang lain yang lebih tua dari kita;
77. Jangan membuka aib orang lain;
78. Lihatlah orang yang lebih miskin daripada kita, lihat pula orang yang lebih berprestasi dari kita;
79. Ambilah pelajaran dari pengalaman orang-orang arif dan bijaksana;
80. Sediakan waktu untuk merenung apa-apa yang sudah dilakukan;
81. Jangan merendah diri kerana miskin dan jangan sombong kerana kaya;
82. Jadilah manusia yang selalu bermanfaat untuk agama, bangsa dan negara;
83. Kenali kekurangan diri dan kenali pula kelebihan orang lain;
84. Jangan membuat orang lain menderita dan sengsara;
85. Berkatalah yang baik-baik atau tidak berkata apa-apa;
86. Hargai prestasi dan pemberian orang;
87. Jangan habiskan waktu untuk sekadar hiburan dan kesenangan;
88. Akrablah dengan setiap orang, walaupun yang bersangkutan tidak menyenangkan;
89. Sediakan waktu untuk berolahraga yang sesuai dengan norma-norma agama dan kondisi diri kita;
90. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan fizik atau mental kita menjadi terganggu;
91. Ikutilah nasihat orang-orang yang arif dan bijaksana;
92. Pandai-pandailah untuk melupakan kesalahan orang dan pandai-pandailah untuk melupakan jasa kita;
93. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan orang lain terganggu,dan jangan berkata sesuatu yang dapat menyebabkan orang lain terhina;
94. Jangan cepat percaya kepada berita jelek yang menyangkut teman kita, sebelum dipastikan kebenarannya;
95. Jangan menunda-nunda pelaksanaan tugas dan kewajiban;
96. Sambutlah uluran tangan setiap orang dengan penuh keakraban dan keramahan dan tidak berlebihan;
97. Jangan memaksa diri untuk melakukan sesuatu yang di luar kemampuan diri;
98. Waspadalah akan setiap ujian, cobaan, godaan dan tentangan.Jangan lari dari kenyataan kehidupan;
99. Yakinlah bahwa setiap kebajikan akan melahirkan kebaikan dan setiap kejahatan akan melahirkan kerosakan;
100. Jangan sukses di atas penderitaan orang dan jangan kaya dengan memiskinkan orang.

from http://www.ml-yono.blogspot.com

20 Desember 2008

FALSAFAH HIDUPKU




Seseorang dimuka dunia tidak akan bisa mandiri, tidak akan bisa sukses, tidak akan bisa hebat tanpa bantuan siapapun, minimal ia butuh bantuan doa. Begitu juga dengan diriku, bukannya ku sukses,tapi alhamdulillah jika kita melihat tentunya ada teman2 maupun orang lain yang tidak seperti diriku, itu semua hanya karunia nikmat yang telah diberikan tuhan terhadapku, seharusnya ku dapat lebih bersyukur, selain tuhan diriku hingga seperti saat ini tetntunya tidak terlepas dari bantuan dan dukungan keluarga terutama doa dari orang tua, juga guru-guru dan juga teman-teman sekalian baik teman sekolah,teman bermain, teman satu organisasi, teman satu kantor,dll. Secara pribadi saya punya filosofi, maupun falsafah ataupun pegangan hidup untuk menjadi sukses walaupun saat ini saya belum sukses, falsafah ini saya adopsi dari tiger woods pegolf terbaik dunia dari negeri Paman Sam, mau tahu apa itu :
1. Kemauan yang sangat besar untuk menjadi orang besar
2. Disiplin
3. Semangat (mumpung masih muda, ayo semangat)
4. Jangan pernah berputus asa
5. Motivasi tanpa henti (saya baca buku motivasi, dengan audio cd motivator, ngikut
seminar)
6. Dukungan penuh keluarga
7. Komunikasi efektif
8. Tidak malas belajar
9. Selalu mengevaluasi diri (selalu mengkoreksi kesalahan apa yang saya perbuat dan
kedepannya akan saya jadikan pijakan supaya jangan diulangi kembali)
10.Santun pada orang tua.
11.Menghormati Orang Lain
12.Setelah semua usaha yang saya lakukan tentunya kesuksesan yang kita rencanakan
tersebut tidak akan berjalan dengan yang baik tanpa kehendak tuhan,makanya jangan
lupa berdoa.

16 Desember 2008

MOTIVASI ALA STEVEN COVEY (ITU SI SEVEN HABITS)


he2 iseng2 posting cerita motivasi , tentang steven covey mungkin bagi yg pernah liat video atau membaca buku2nya uda mengetahui tentang inti cerita ini , tapi bagi yg sudah ataupun yg belum saya ingin mengingatkan kembali sebagai perenungan dihari ini
Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stress, Steven Covey mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya:
“Seberapa berat menurut anda kira segelas air ini?” Para siswa menjawab mulai dari 200 gr sampai 500 gr.
“Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama anda memegangnya.” kata Covey.
“Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya
memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya
memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan
ambulans untuk saya. Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya
memegangnya, maka bebannya akan semakin berat.”
“Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak
akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya.”
lanjut Covey.
“Apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut,
istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi”.
Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat
lebih segar dan mampu membawanya lagi. Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan sore ini, tinggalkan beban pekerjaan. Jangan bawa pulang. Beban itu dapat diambil lagi besok. Apapun beban yang ada di pundak anda hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa. Setelah beristirahat nanti dapat diambil lagi……

Cara Mengatasi Stres





Jika Anda termasuk orang yang mengalami stress, Anda dapat mencoba melakukan beberapa hal untuk mengatasinya seperti;
1. Melakukan kegiatan positif yang anda sukai. Anda dapat berolah raga, memancing, berkebun, berlibur, atau melakukan apa yang menjadi hobby Anda.
2. Banyak tertawa. Mulailah menghibur diri dengan menonton film komedi atau membaca lelucon yang akan mengajari Anda tersenyum kembali dan akhirnya tertawa bahagia.
3. Mencoba melakukan hal baru. Mulailah dengan sesuatu yang sederhana misalnya sesekali mencoba menu makanan eropa. Merasakan sesuatu yang “tidak biasa” akan membuat hidup anda lebih bervariasi dan menyenangkan.
4. Memelihara binatang. Menurut penelitian memelihara binatang akan mengurangi stres dan membuat Anda merasa rileks.
5. “Curhat” ke teman dekat. Banyak orang yang sudah membuktikan bahwa dengan berbagi cerita beban akan terasa lebih ringan kendati itu belum tentu memberikan solusi bagi masalah Anda

Cara memotivasi Diri


Teman-teman…apa kah kalian sering merasa kurang motivasi??mungkin karena laporan yang seabrek ataupun masalah lainnya….naah….nih ada tujuh tips yang baru saja quw dapatkan untuk membangkitkan motivasi kita sehari-hari. Penasaran???nih dia….
1. Ciptakan hasrat
Nah…pertama-tama,munculkan dulu keinginan di diri teman-teman. Misalnya kalo mau buat laporan,harus ada tekad yang bulat (jangan segitiga..he). Agar tekad muncul bayangkan aja hasil yang akan teman-teman peroleh kalau ngerjain tuh laporan. Misalnya semua orang akan terkagum-kagum..wehehehe
2. Ciptakan rasa sakit
Setelah ada tekad, coba dibayangkan kalo teman-teman gak buat laporan itu..apa yang akan terjadi???bayangkan yang sadis-sadis. Seperti bakal dapat nilai E (amit-amit jabang bayi kan??).
3. Bicarakan rencana anda
nah..ini dia…omongkan rencana teman-teman pada orang lain. Yah..sukur-sukur dibantuin deh (kalo gak ya nasib..he). Paling tidak dengan kita curhat pada orang lain, kita bisa meminta motivasi atau dukungan atau semangat.
4. Miliki sebuah ketertarikan yang nyata
Aduh.. jangan sampe deh..gak ada ketertarikan sama sekali. Jangan mengerjakan sesuatu dengan unsur paksaan yah teman-teman. Hasilnya gak akan sesuai dengan keinginan kita lho.
5. Miliki energi
Ciptakan semangat 45!!Jangan sampe deh kondisi yang kurang fit menjadi penghalang buat teman-teman dalam berkreasi.
6. Ciptakan keseimbangan mental
Nah.. kalau ini berhubungan dengan rohani. Hilangkan pikiran-pikiran buruk. Masa’ belum dikerjain sudah negative thingking duluan. Ntar cepat tua lho..:D]
7. Ambil sebuah langkah kecil
Terakhir…..mulailah dengan langkah-langkah kecil terlebih dahulu. Misalnya untuk kasus pembuatan laporan.. jangan dipaksain untuk pembahasan dulu deh. Ntar keburu keriting otaknya. Mulai aja dengan tujuan dan dasar teori (ini untuk praktikum lho).

JODOH – Yang jauh dinanti yang datang di tepis

Akhlaq bagus, berpendidikan tinggi, wawasan luas, berwajah tampan pula. Belum lagi didukung dengan kemapanan ekonomi yang bisa terlihat dari kendaraan dan rumah pribadinya. Meski demikian, kerendahan hatinya yang begitu menonjol menjadikannya begitu bersahaja.

Tidak sombong dan justru sangat dermawan, dekat dengan segala golongan tidak memandang status dan membeda-bedakan orang berdasarkan kelas-kelas ekonomi. Terakhir yang tidak kalah pentingnya, mampu menunjukkan bakat kepemimpinan yang mumpuni. Bermimpikah bila ada gadis muslimah yang mendambakan seorang pendamping dengan kriteria diatas? Atau bolehkah memimpikannya?

Tentu saja, setiap orang -laki-laki maupun wanita- berhak menentukan kriteria orang yang akan dijadikan calon pendampingnya kelak. Karena, seperti yang dicita-citakan hampir semua wanita, cukup satu kali menikah untuk seumur hidup meski terkadang ada sebagian yang harus menerima kenyataan menikah untuk kesekian kalinya karena alasan-alasan tertentu.

Terlebih bagi mereka yang memang diberikan kemurahan-Nya memiliki kualitas lebih dari yang lain, entah karena paras cantiknya, jenjang pendidikan, tingkat kemapanan ekonomi, lingkungan dan pergaulan, atau karena kelebihan-kelebihan lainnya, mereka yang dengan berbagai kelebihan yang dimiliki itu tentu saja lebih merasa berhak untuk mematok kriteria tinggi untuk seorang calon pendamping. Setidaknya, pikir mereka, "peluangnya lebih besar" meski harus disadari bahwa segala sesuatu yang bakal berlaku dalam hidup ini, tentu saja Allah penentu akhirnya.

Cantik, masih muda (dibawah 23 tahun atau masih berstatus mahasiswi), bukan hal aneh jika dikala ini masih cenderung membanding-bandingkan satu dengan yang lainnya untuk kemudian menentukan yang lebih baik. Bahkan bukan tidak mungkin masih menantikan hadirnya calon lain disamping yang sedang dibandingkannya. "Siapa tahu, yang datang kemudian lebih oke" pikirnya.

Diusia seperti, ini idealisme seorang masih sangat tinggi sehingga, tidaklah heran jika ada orang yang membuat 'joke', salah satu kesibukan mereka adalah "sibuk nolak" terlebih terhadap laki-laki yang memang dianggap bukan kelasnya. Padahal yang ditolak itu sebenarnya juga "nggak rendah-rendah amat kualitasnya", mungkin hanya kurang menarik, atau karena belum mempunyai pekerjaan mapan. Ada juga, alasan-alasan yang tidak masuk akal semisal perbedaan suku. Namun sudah pasti, ini tidak berlaku umum, karena buktinya, banyak juga mereka yang menikah diusia ini dengan menafikan hal-hal seperti wajah atau kemapanan ekonomi.

Sedikit diatas mereka (usia sekitar 25 tahun), baik mereka yang melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi atau sebagian yang lain yang sudah mendapatkan pekerjaan, mungkin saja kondisi tersebut mempertinggi 'daya tawar' mereka, namun justru pada usia ini pola pikir mereka tentang masa depan sudah mulai terbentuk dan punya arah yang lebih jelas. Pandangannya tentang calon pendamping tidak mutlak pada sisi fisiologis (tampan, berduit). Kalaupun ada pandangan ke arah tersebut, kadarnya pun tidak terlalu tinggi, setidaknya mereka juga lebih objektif mengukur dengan kualitas diri untuk disesuaikan dengan kriteria calon yang diharapkan.

Lain halnya dengan mereka yang sudah mendekati 'kepala tiga'. Meski tidak bisa dipukul rata, namun tidak sedikit yang 'banting harga' di usia ini. Mereka yang ketika masih menjadi mahasiswi atau usia tidak lebih dari seperempat abad seringkali menampik kesempatan, menepis yang datang karena tingginya 'idealisme' dan patokan kriteria yang ditancapkan, mulai menurunkan kriteria calon, "Asal baik, sholatnya bener okelah". Bahkan diusia kepala tiga, ada saja yang lebih gila-gilaan soal jodoh yang bisa terlihat dari ungkapan-ungkapan seperti, "asal ada yang mau", "nunggu yang sholeh bener nggak datang-datang, yang ada ini juga bolehlah," atau yang lebih ekstrim, "syukur ada yang mau".

Patutlah menaruh hormat kepada para muslimah yang diusia kepala tiga atau lebih, tetap konsisten dengan mematok standar yang cukup realitis, Akhlak bagus (shaleh), jujur, amanah dan bertanggungjawab, berpenghasilan, serta memiliki jiwa pemimpin. Mereka tetap yakin bahwa Allah, dengan kerahasiaan-Nya sudah mengatur segala hal yang berkenaan dengan dirinya. Dengan tetap berkeyakinan seperti itu, kepercayaan dirinya mampu mengalahkan keresahan dan kegalauan yang terkadang muncul, "Hanya soal waktu, disinilah diuji kesabaran", "Mungkin Allah mentakdirkan untuk lebih lama hidup sendiri" hiburnya.

Ada pula wanita-wanita yang karena alasan tertentu sengaja menunda pernikahan. Mereka tidak pernah menyesal terlambat menikah, atau menyesal telah menepis sekian banyak pemuda baik-baik yang datang kepadanya. Mereka, tetap tegar menatap hidup merengkuh masa depan yang menanti.

Namun bagi yang 'masih muda dan belum terlambat', tiada salahnya juga untuk tidak segera menepis datangnya calon pendamping hanya karena kriterianya sedikit dibawah standar, karena siapa tahu -Maha Suci Allah dengan segala kerahasiaan-Nya- dialah yang sengaja dikirimkan Allah untuk anda. Karena juga belum tentu, pujaan hati dengan label tinggi yang selama ini dinanti segera datang, bahkan bisa jadi masih jauh. Who knows? Wallahu a'lam bishshowaab.


(dirilis dari artikel BAYU GAUTAMA di www.eramuslim.com)

MY UNCLE




Simandolak, Kecamatan Benai, Kuantan Singingi, 15 Agustus 1962 silam, seorang bayi lelaki bernama Aras Mulyadi terlahir, tumbuh dan berkembang dibawah bimbingan orang tuanya. Berlecah disawah, malope ponek mandi di Batang Kuantan, kabalo Jawi di padang rumput, serta memasarkannya kepasar tradisional, ini semua menjadi keseharian Aras kecil. Hal inilah yang meumbuhkan motivasi anak sulung dari lima bersaudara ini dibidang pertanian dan perikanan.
Bercerita tentang sekolah, sejak duduk dibangku SD N 1 Simandolak, Kecamatan Benai, Kabupaten Kuantan Singingi hingga SMP Negeri IV Koto Benai, juga di Kec. Benai, Kab. Kuansing ia dikenal sebagai jago kelas. Ini tidak terlepas dari prestasi Aras ketika masih tinggal dikampung. Kemudian dengan dorongan keluarga terutama pamannya untuk melanjutkan pendidikan sekolah di Pekanbaru, Aras melanjutkan pendidikannya di SMA N 1 Pekanbaru.
Memasuki perguruan tinggi Aras memilih Jurusan Budidaya Perikanan Fakultas Perikanan (Faperika) Universitas Riau (Unri), Aras meraih gelar Ir pada tahun 1986 dengan Judul Skripsi “Pengaruh Posfat dan Nitrat Terhadap Pertumbuhan Klekap.”
Memilih fakultas perikanan merupukan, kata Aras, dorongan keinginan masa kecil. “Sewaktu kecil saya sangat suka ikut ayah pergi menangkap ikan, ingin tahu banyak tentang ikan yang mendorong saya mamasuki Fakultas Perikanan,” ungkap putra dari Arifin Jais ini sewaktu mnyanpaikann kata sambutan saat wisudanya dan ia dinobatkan sebagai pemuncak.
Setelah gelar keserjanaan diraih, bapak tiga manak ini pun mulai merambah dunia pekerjaan. Dorongan menjadi guru membuat mantan Ketua Pengurus Pelajar Indonesia, Montpelier, Francis 1993-1994 ini melamar sebagai dosen Unri. Tahun 1989 impian Aras tercapai. Tidak hanya menjadi PNS, ia bahkan terpilih sebagai salah satu yang berkesempatan mengikuti pasca sarjana ke Francis. “Sungguh di luar logika rasanya, seorang anak desa nun jauh di pelosok sana, di berikan rahma oleh Allah SWT mengeyam pendidikan hinfgga ke Eropa,” syukur Aras terhadap apa yang ia raih.
Sadar akan kekurangan berbahasa Prancis. Ia pun menjalani kursus bahasa Prancis selama enam bulan di Jakarta, “Saya sangat membutuhkannya, karena di sana kuliah memakai bahasa Prancis, saya harus bias menguasainya,” tekad Aras ketika itu. Menguasai bahasa Prancis adalah modal awal untuk melanjutkan pendidikan di Prancis, setibanya di Prancis dosen teladan Faperika Unri ini kembali mendalami bahasa Prancis selama enam bulan pula.
Tahun 1990 Aras pun menapakkan kaki du Universitas Marseilles II Prancis, dengan bidang ilmu biologi oseanografi. Pendidikan ini ia selesaikan tahun 1991. Tahun 1992, Aras kembali menimba ilmu di Universitas yang sama. Kali ini untuk mendapatkan gelar doctor. Bidang ilmu yang didalaminya adalah evolusi dan ekologi. Akhir tahun 1995 gelar doctor secara resmi ia dapatkan. Kembali ke almamater, Aras pun mengabdikan diri di Faperika hingga 16 tahun.
Waktu terus berjalan. Tepatnya tanggal 17 Mei 2004, setelah kembali ke tanah air Aras dipercaya Gubernur Riau, H. M. Rusli Zainal, SE mengemban amanah sebagai wakil kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Riau. Meski sedikit canggung berprofesi sebagai seorang birokrat, Aras memaluinya penuh tanggung jawab, “Ini semua adalah rahmat Allah yang sangat-sanngat saya syukuri, awalnya memang agak grogi, maklukmsaya lebih banyak bergiat dibidang akademis, eh… tahu..tau jadi birokrat,” cerita Aras yang juga mendapat prediket peneliti terbaik Unri thun 1997, 1999 dan 2000 ini.
Menjadi guru cita-cita yang telah yang telah tertanam sejak masih kecil, akhirnya tercapai, menurut Aras Mulyadi yang sekarang menjabat Pembantu Rektor bagian Akademis (PR I) Unri ini, pendidikan menjadi tonggak pembangunan. Oleh karena itu pengembangan pendidikan daerah kiranya dapat menjawab pembangunan daerah. Tentu saja dengan system yang baik dan rapat. Begitu pula denga putra putri daerah dalam pencarian bibit unggul daerah sebagai penerus pembangunan dimasa depan. “Dipelosok pelosok banyak individu yang mampu tapi belum memliki peluang dan kesempatan untuk menimba ilmu karena keterbatasan ekonomi dan akses, untuk itu jangan pernah penyerah,” peasan Aras.
Sabtu, 31 Mei 2008 lalu ia dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Ekologi dan Pemanfaatan Alga, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (Faperika) Univeritas Riau (Unri). Lengkaplah namanya menjadi Prof. Dr. Ir. Aras Mulyadi, DEA.

www.benaigeneration.com/2008/10/dari-simandolak-ke-francis.html