27 Oktober 2012

Sinyal Krisis Perbankan

Harus diakui memang masih ada indikator lain yang harus diwaspadai terkait dengan belum jelasnya penanganan krisis di Eropa. Sangat bijak kalau kita tidak selalu menghibur diri dengan mengatakan bahwa dampak krisis Eropa sudah dapat dikendalikan. 

Perkembangan terbaru dari krisis perbankan di Eropa memberikan indikasi yang belum menggembirakan. Banyak analis memperkirakan bahwa krisis tersebut lambat laun akan merambat ke kawasan ASEAN, termasuk Indonesia.
Apakah krisis akan berdampak secara langsung (first round) ataupun tidak langsung (second round), itu hanya persoalan waktu. Tapi, jika bicara tentang besaran dampaknya, tentu akan berbeda untuk masing-masing negara, termasuk tiap bank di negara bersangkutan.

Terlepas dari kapan dan besar kecilnya dampak krisis di Eropa terhadap perekonomian Indonesia dan khususnya sektor perbankan, ada baiknya kita ingat pepatah bijak, sedialah payung sebelum hujan. Bukan sebaliknya, ketika hujan justru kita sibuk mencari payung. Dalam konteks antisipasi dampak krisis Eropa terhadap sektor perbankan khususnya, kita harus bijak mencermati lebih intensif atas situasi perkembangan yang ada. Ada beberapa indikasi yang mengharuskan kita lebih siaga.

Pertama, karena informasi sudah sedemikian mudah didapat, maka sangat wajar kalau semua pelaku bisnis sudah mengetahui apa yang terjadi atas krisis di Eropa. Di satu sisi, hal ini positif karena mereka bisa mendapatkan informasi terkini, tapi di lain pihak mereka juga dapat melakukan langkah-langkah sendiri yang bisa jadi tidak selalu tepat. Dengan perkataan lain, semakin banyak antisipasi mereka, bisa saja berdampak negatif bagi lainnya.
Salah satu kecenderungan yang terjadi adalah semakin banyaknya dana dalam bentuk mata uang dolar Amerika Serikat (AS) dipindahkan dari simpanan berjangka (deposito) ke simpanan yang sangat likuid, yaitu giro. Kecenderungan tersebut terjadi pada kalangan pengusaha khususnya, bukan lagi untuk mendapatkan imbalan bunga, tetapi lebih kepada kebutuhan likuiditas di satu pihak dan boleh jadi spekulasi dengan mencari keuntungan (profit taking) di tengah pelemahan rupiah.

Apabila semua pengusaha memiliki kecenderungan yang sama, di mana dananya lebih banyak ditempatkan di giro, misalnya, perbankan tentunya harus ekstra menjaga likuditas karena setiap saat dana tersebut bisa dicairkan untuk keperluan apa pun.

Seyogianya bank tidak “terlena” karena mendapat sumber dana murah, tapi stabilitas dalam jangka panjang akan mengganggu likuditasnya. Harus ada langkah strategis yang saling menguntungkan, baik bagi bank maupun nasabah dalam menghadapi kondisi tersebut.

Kedua, sekalipun likuiditas perbankan dalam kondisi baik, dari sisi nasabah penerima kredit bisa terjadi yang sebaliknya. Misalnya, kreditor yang berorientasi ekspor sudah mulai merasakannya, selain permintaan mulai berkurang, harganya cenderung turun. Bila keduanya berjalan pararel, maka persoalan yang timbul adalah menurunnya kemampuan membayar. Jika kondisi itu terjadi secara serempak, bisa jadi non performing loan (NPL) akan naik dan akhirnya memengaruhi kinerja bank.

Saat ini gejala tersebut belum begitu terasa, tapi ada kemungkinan akan membesar. Kalau ekspor terus menurun dan dibarengi harga komoditasnya, praktis akan mengganggu arus kas (cash flow) perusahaan. Belum lagi bagi industri yang bahan bakunya masih impor, gangguan arus kas terjadi dari dua sisi, yaitu biaya dan pendapatan.

Ketiga, ketidakpastian sering kali mengundang isu dan rumor di pasar. Kondisi ini sulit dihindari karena mereka juga memiliki akses informasi yang relatif mudah dan bebas. Tentunya akan sangat tidak produktif kalau hal tersebut terus berkembang sehingga perlu adanya penyeimbang informasi, termasuk dari pemerintah.

Indonesia di masa lalu punya pengalaman yang kurang baik, di mana semakin sering dinyatakan tidak ada masalah, justru dalam tempo yang relatif singkat masalah itu terjadi. Sering disampaikan bahwa pemerintah tidak akan melakukan devaluasi, tapi kenyataannya justru sebaliknya. Pernah disampaikan juga bahwa kondisi perbankan dalam keadaan sehat, lalu tiba-tiba muncul masalah Bank Global dan Bank Century.
Belajar dari pengalaman masa lalu itu, seyogianya keterbukaan informasi lebih sering dilakukan. Memang akan menjadi buah simalakama. Semakin terbuka bisa saja direspons positif, tapi tak jarang pula respons pasar atau pelaku bisnis khususnya malah sebaliknya. Andai diambil untung ruginya, nampaknya tetap lebih baik kalau keterbukaan informasi dan penyampaian kondisi kekinian lebih banyak dilakukan.

Penyampaian informasi terkini tentunya harus disertai dengan langkah-langkah konkret dari pemerintah dan/atau regulator. Dengan adanya rencana langkah-langkah yang jelas, terbuka, serta rasional, akan mengurangi isu negatif atau rumor sekalipun tidak hilang sama sekali.
Ketiga catatan tersebut merupakan bagian-bagian yang termasuk penting. Harus diakui memang masih ada indikator lain yang harus diwaspadai terkait dengan belum jelasnya penanganan krisis di Eropa. Sangat bijak kalau kita tidak selalu menghibur diri dengan mengatakan bahwa dampak krisis Eropa sudah dapat dikendalikan.

Kalau hanya data-data publikasi, baik dari luar maupun dalam negeri yang digunakan, kita bisa jadi akan terjebak dalam pola pikir yang linier. Artinya, karena data-data sebelumnya baik, maka disimpulkan ke depan akan tetap baik. Padahal, krisis terjadi lantaran adanya “break” (menjadi tidak linier) sehingga tidak selalu semua data yang menunjukkan indikasi positif akan berlaku untuk seterusnya.

Pihak pemerintah dan regulator (Bank Indonesia atau BI) sudah mengumpulkan dan mengkaji berbagai sinyal yang berkaitan dengan dampak krisis Eropa. Berbagai simulasi (stress test) sudah dilakukan dan juga berbagai langkah penanganannya sudah disiapkan.
Demikian juga beberapa instrumen keuangan yang ditujukan untuk menjaga stabilitas perbankan khususnya juga sudah ada dan akan terus disempurnakan. Semua itu tentunya berkaitan dengan sedia payung sebelum hujan. Semoga kita memiliki payung yang tidak mudah bocor dan rusak. Lebih celaka lagi ketika hujan reda, kita baru punya payung. 

0 komentar:

Posting Komentar

Berikan Komentar terbaik anda, lebih dari satu komen no problem,sekarang zamannya bebas berekspresi.