10 Maret 2012

Menyoroti Kinerja Perbankan Indonesia

Di tahun Naga Air ini perbankan Indonesia harus memperhitungkan potensi risiko yang bersumber dari dua area. Area pertama adalah risiko perlambatan ekonomi global menyusul krisis utang Eropa yang sulit diselesaikan dalam waktu singkat
 
Di tengah keterpurukan sektor perbankan di Amerika Serikat dan kawasan Eropa karena didera krisis ekonomi, kinerja sektor perbankan Indonesia justru menunjukkan potret menggembirakan. Hal ini setidaknya tecermin dari kinerja harga saham emiten sektor perbankan sebagai refleksi capaian kinerja di sepanjang 2011 lalu yang mengesankan.

Diproyeksikan kinerja emiten perbankan pada 2012 akan ditopang oleh tingginya permintaan dari dalam negeri. Memang sejumlah kebijakan Bank Indonesia (BI) berpotensi mengurangi net interest margin (NIM), tetapi bank akan meningkatkan volume kredit atau meningkatkan pendapatan non-bunga (fee based income/FBI) untuk mengatasi penurunan tersebut.

Target penyaluran kredit industri perbankan sebesar 23,6% pada 2012 akan didukung permintaan dari industri domestik. Kontribusi kredit terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang masih berkisar di level 27%, lebih rendah dibanding Filipina 30%, India 51%, Thailand 79%, Malaysia 109%, dan Singapura 139%. Hal ini menunjukkan perbankan Indonesia masih memiliki ruang yang cukup besar untuk menyalurkan kredit.


Segmen kredit konsumsi dan kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih akan menjadi fokus perbankan untuk mendorong pertumbuhan kredit. Perbankan yang memiliki fokus di segmen kredit mikro memiliki ruang untuk ekspansi lebih besar. Ini lantaran di tengah ancaman krisis global, sektor mikro dinilai paling tahan dan kuat menahan goncangan.

Bank-bank yang memiliki fokus bisnis pada segmen ritel konsumer juga akan menikmati potensi bisnis yang besar, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang positif pada kisaran 6,3-6,7% tahun ini.

Angka pengangguran yang menurun dari 8,% menjadi sekitar 7% mengindikasikan semakin banyak orang bekerja. Mereka juga berpenghasilan cukup sehingga mendorongnya untuk berbelanja karena memiliki daya beli yang kuat. Kelompok kelas menengah baru inilah yang bakal dibidik sebagai target pasar bank-bank ritel konsumer. Bank-bank ini akan menikmati yield yang tinggi, walaupun net interest margin (NIM) bank semakin terbatas dengan menguatnya kompetisi dalam penyaluran kredit.

Sementara bank-bank skala besar masih bertumpu pada ekspansi kredit skala wholesale atau korporasi besar. Dengan dukungan permodalan dan likuiditas yang solid, mereka dengan mudahnya membiayai sektor-sektor infrastruktur yang padat modal dan padat karya.

Khusus untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR), diprediksi akan menjadi pendorong terbesar kenaikan kredit konsumsi karena suku bunga yang relatif rendah dan peningkatan daya beli kelas menegah. Kemampuan beli yang baik mendorong pemenuhan kebutuhan primer oleh keluarga-keluarga muda melonjak.

Namun, pertumbuhan kredit kendaraan bermotor berpotensi melambat sebagai dampak dari efek pembatasan penggunaan bahan bakar minyak bersubsidi untuk kendaraan pribadi atau kemungkinan dampak kenaikan harga BBM besubsidi mulai April nanti.

Hanya saja, jika pelaksanaan proyek infrastruktur bisa lebih tersebar ke seluruh wilayah Tanah Air, tidak hanya terpusat di Jawa, terutama kawasan Jabodetabek, maka permintaan properti dan otomotif masih akan tetap terjaga baik. Setidaknya setelah diberlakukannya kebijakan BBM yang baru pasca-April nanti.

Target pelaku usaha otomotif untuk mencapai satu juta unit tahun ini pun bisa tercapai, karena pasar otomotif di Thailand sedang terganggu ekses banjir yang melanda negara itu tahun lalu.

Prinsipal otomotif dari Jepang pemegang merek Mitsubishi, Honda, dan Toyota juga sudah berkomitmen menambah investasinya di Indonesia, sebagian dari mereka merupakan relokasi dari Bangkok, Thailand, yang terendam banjir besar.

Secara umum, net interest margin (NIM) diperkirakan masih akan terjaga di kisaran 5,8-6,2% di tahun ini. Kebijakan Bank Indonesia menurunkan BI Rate dari 6% menjadi 5,75% dan peningkatan transparansi suku bunga dasar kredit (SBDK) akan memengaruhi NIM, kendati tidak signifikan.

Sebelumnya saham-saham perbankan sudah mencatat pertumbuhan tinggi pada 2011 sehingga tahun ini pada pelaku bursa akan mengurangi portofolio mereka di saham perbankan. Beberapa kebijakan bank sentral dinilai menjadi sentimen negatif bagi saham perbankan.
Sebagaimana diketahui, BI terus mendorong penurunan suku bunga kredit dan suku bunga simpanan, sementara untuk bisa mencapai pertumbuhan kredit 20%-25%, perbankan membutuhkan dana dari publik. Karena itu, bank sulit menurunkan bunga simpanan, sementara di sisi lain bunga kredit turun sehingga net interest margin perbankan mengalami kontraksi.
Secara keseluruhan, bank sentral (BI) masih optimistis pertumbuhan kredit perbankan pada 2012 dapat mencapai 24-27% atau melebihi rencana bisnis bank  (RBB) industri perbankan sebesar 23,6%.

BI optimis karena prediksi inflasi ke depan rendah (kendati ada kebijakan terkait kenaikan harga BBM dan kenaikan tarif dasar listrik atau TDL sebesar 10%). Nilai tukar rupiah juga relatif stabil pada kisaran Rp 8.700-Rp 9.200 per dolar AS dan pertumbuhan ekonomi diproyeksikan di atas 6,3%.


Rencana Strategis 2012

Sebagai referensi, PT Bank Tabungan Negara Tbk . (BNI) menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 25% pada 2012. Perseroan akan memperbaiki biaya dana untuk meningkatkan efisiensi. BTN juga menargetkan dapat mempertahankan net interest margin di level 5,4% atau relatif sama dengan pencapaian 2011. BTN akan memperbaiki efisiensi perseroan sehingga laba bersih (bottom line) lebih baik dibanding pada 2011.
Sementara PT Bank Mandiri Tbk menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 20%-22%. Perseroan akan mengubah portofolio kredit dari yang sebelumnya lebih banyak ke segmen kredit korporasi beralih ke sektor ritel dan lainnya.
Bank Mandiri juga akan menurunkan bunga kredit dengan cara menurunkan biaya dana (cost of fund) perseroan. Disamping itu, Bank Mandiri akan memperbesar porsi dana murah menjadi 63%-65% dari level saat ini 60%.
Sementara BNI mengharapkan pertumbuhan kredit pada 18-20% tahun ini, melihat asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih mampu berada pada kisaran 6,3%-6,7%.

Diperkirakan bank-bank skala menengah dan kecil lebih berani menargetkan pertumbuhan kredit pada kisaran 24-27% karena mereka memiliki ruang ekspansi lebih besar. Dengan memiliki pangsa pasar yang spesifik (niche markets), mereka dengan mudah melakukan penetrasi pasar.


Sekilas Kinerja 2011

Pada umumnya perbankan Indonesia mampu menorehkan kinerja yang baik di sepanjang 2011 silam. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk mencatat pertumbuhan laba 42% atau sebesar Rp5,81 triliun dibanding periode yang sama sebelumnya Rp4,10 triliun. Pertumbuhan laba ini merupakan hasil peningkatan pendapatan bunga bersih dan pendapatan non bunga (fee based income) masing-masing sebesar 13% dan 8%. Laba bersih per saham BNI juga naik Rp266 menjadi Rp312.

Pendapatan bunga BNI tumbuh disokong pertumbuhan kredit di 20%, menjadi Rp 163,53 triliun dari Rp136,36 triliun. Komposisi pinjaman merupakan 75,5% business banking, 21,2% sektor konsumer, dan sisanya pembiayaan anak perusahaan. Posisi aset bank BUMN tertua tersebut naik juga sebesar 20% sebesar Rp299,06 triliun dari Rp248,58 triliun.

Dalam menyalurkan kredit, bank ini menajamkan segmen business banking pada pembiayaan delapan sektor industri unggulan sesuai dengan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).

Pertumbuhan kredit tertinggi pada 2011 merupakan pada sektor minyak, gas, dan pertambangan hingga 67,9%, bahan kimia 19%, dan agrobisnis 17,3% masing-masing dengan kredit Rp11,9 triliun, Rp4,5 triliun, dan Rp10,9 triliun. Kredit sektor perdagangan tetap dengan share tertinggi dengan penyaluran Rp23,3 triliun dengan pertumbuhan 12,5%. Ke depan BNI akan memosisikan diri sebagai bank yang mendukung industri dalam negeri.

Saudara BNI, yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mencatat laba sebesar Rp15,08 triliun pada tahun 2011 atau naik 31,47% jika dibandingkan laba tahun sebelumnya sebesar Rp11,47 triliun. Pertumbuhan laba terjadi ketika pertumbuhan kredit BRI tidak sepesat tahun sebelumnya.

Karena pada 2011 merupakan tahun konsolidasi bagi BRI, maka pertumbuhan kredit hanya mencapai 14,83% menjadi Rp283,58 triliun dibandingkan tahun sebelumnya Rp246,87 triliun, jauh di bawah pertumbuhan kredit industri yang 24,5%. Namun, konsolidasi bank ini merupakan pertumbuhan yang berkualitas, tecermin dari terjadinya perbaikan kualitas kredit, dengan menurunnya tingkat NPL dari 2,87% di 2010 menjadi 2,30% pada 2011.

Kini, NPL net bank tersebut turun dari 0,74% menjadi 0,42%. BRI mengaku tidak mengerem kredit, hanya membenahi kredit untuk sektor usaha kecil dan menengah. Di saat yang sama, NIM juga diturunkan menjadi 9,58% dibandingkan periode yang sama tahun lalu 10,77%.

Akibatnya, pendapatan bunga BRI hanya tumbuh 6,77% dari Rp43,97 triliun menjadi Rp46,95 triliun. Net interest income (NII) tumbuh 4,14% dari Rp 32,52 triliun menjadi Rp 33,87 triliun. NII turun disebutkan juga karena yield dari simpanan di BI dan bank lainnya turun.

Bank BUMN lainnya, yakni PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, juga mencatatkan kenaikan laba setelah pajak sebesar 22,16% yaitu senilai Rp1,1 triliun per 31 Desember 2011 dari posisi Rp916 miliar pada 2010. Ini adalah tahun pertama BTN mendapat laba di atas Rp1 triliun, hasil ini sesuai dengan program restrukturisasi sumber daya manusia serta perbaikan teknologi dan manajemen yang dilakukan.
Keuntungan tersebut berasal dari pertumbuhan “current account saving account” yaitu jumlah giro dan tabungan yang lebih tinggi dibanding dengan 2010 sehingga menghasilkan biaya yang rendah dan perbaikan NPL.
Dana pihak ketiga (DPK) BTN tumbuh 30,34% menjadi Rp61,9 triliun dari nilai Rp47,5 triliun, DPK tersebut ditopang dari tabungan, giro dan deposito nasabah sementara NPL pada 2011 terjaga pada posisi 2,75%, membaik dibanding 2010 yang sebesar 3,26%.

Per 31 Desember 2011, penyaluran kredit BTN juga tumbuh 23,31% pada 2011 yaitu mencapai Rp63,6 triliun dari Rp51,5 triliun pada 2010, komposisi kredit berasal dari kredit perumahan (87,62%) dan kredit non-perumahan (12,38%).
Khusus untuk Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), BTN mengaku bahwa sudah menandatangani perjanjian kerja sama operasional (PKO) dengan Kementerian Perumahan Rakyat dengan komposisi pembiayaan pemerintah dan BTN 50:50 dan total dana Rp1 triliun.

Salah satu bank swasta nasional, yakni PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) juga mampu mencetak laba bersih 2011 sebesar Rp1,4 triliun. Laba bersih di atas Rp1 triliun ini juga untuk pertama kalinya diraih BTPN. Penaikan laba bersih tersebut ditopang oleh pertumbuhan kredit sebesar 30%.
Capaian laba tersebut tumbuh lebih dari 60% jika dibandingkan dengan laba tahun 2010 senilai Rp836,8 miliar. Kinerja BTPN yang bagus ditopang oleh visi menjadi bank mass market dengan target nasabah pensiunan, dan usaha mikro dan kecil (UMK). Melalui program ”Daya”, pada 2011 lalu BTPN berhasil menjangkau 800 ribu penerima manfaat, melalui 26 ribu aktivitas dan kelas pelatihan.

Sedangkan PT Bank Permata Tbk mampu membukukan laba Rp 1,157 triliun pada akhir 2011, naik 14% dari perolehan laba 2010 lalu.

Salah satu bank asing, yakni Grup HSBC Holding Plc juga telah melaporkan laba sebelum pajak sebesar US$21.9 miliar pada tahun 2011. Angka ini naik sebesar 15% dibandingkan tahun sebelumnya.

Di Asia, HSBC tetap memberikan kontribusi yang penting terhadap kinerja keuangan grup secara global. Dengan laba sebelum pajak mencapai US$13.3 miliar pada 2011, meningkat sebesar 15% dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai tersebut merupakan 61% dari keuntungan Grup secara keseluruhan.

Hanya saja, di tahun Naga Air ini perbankan Indonesia harus memperhitungkan potensi risiko yang bersumber dari dua area. Area pertama adalah risiko perlambatan ekonomi global menyusul krisis utang Eropa yang sulit diselesaikan dalam waktu singkat. Pemulihan ekonomi Amerika Serikat juga berjalan lamban, setidaknya hingga 2014 mendatang.

Area kedua adalah risiko domestik berasal dari kebijakan kenaikan harga BMM dan TDL 10% mulai April nanti. Efek kenaikan harga BBM dan TDl adalah lonjakan inflasi yang bisa menyeret suku bunga acuan atau BI rate naik kembali di atas 6%, yang kemudian akan diikuti kenaikan LPS rate.

Ujung-ujungnya perbankan harus menaikkan suku bunga simpanan karena keinginan pasar. Dan, yang terakhir, kenaikan suku bunga kredit tak terhindarkan lagi.
 
Sumber : 
http://www.infobanknews.com/2012/03/menyoroti-kinerja-perbankan-indonesia

1 komentar:

Poskan Komentar

Berikan Komentar terbaik anda, lebih dari satu komen no problem,sekarang zamannya bebas berekspresi.