09 Agustus 2011

Mengejar Laba, Menjaga Kualitas dan Identitas

Mengapa laba perbankan nasional makin besar, tentunya harus diapresiasi sebagai hasil kerja keras kalangan perbankan dari jajaran tertinggi sampai dengan terendah. Juga, dapat dianggap sebagai bukti bahwa tahun 2010 adalah tahun yang subur bagi bisnis perbankan. Saya agak ragu untuk mengatakan bahwa tahun 2010 adalah era “banking booming” karena secara psikologis takut akan ada pertanyaan apakah siklus “banking crash” akan terjadi.

Dalam kondisi tertentu, tampaknya tidak perlu dipermasalahkan karena laba perbankan nasional, khususnya bank-bank badan usaha milik negara (BUMN), makin tinggi. Sebab, apa pun alasannya, laba jelas merupakan tujuan utama sebuah entitas bisnis. Laba tetap laba dari mana pun sumber perolehannya dan bagaimanapun cara memperolehnya. Sepanjang dilakukan sesuai dengan prosedur dan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance atau GCG) tidak ada yang perlu dipermasalahkan.
Karena laba merupakan hasil akhir sebuah usaha, kenaikan laba selalu berkorelasi dengan harga saham bagi perusahaan publik dan dividen bagi pemegang saham. Kalau dikaji, dampak perolehan laba yang sangat signifikan adalah bagaimana kesinambungannya. Manajemen yang bijak tentunya mengelola bank untuk kepentingan jangka panjang.

Kesinambungan akan terjadi sangat penting karena dengan pendekatan seperti itu perusahaan dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Manajemennya boleh pensiun, tapi banknya tidak pernah pensiun. Dalam kaitan terebut, ada tiga catatan yang barangkali relevan untuk direnungkan.


Pertama, jika datanya benar, ternyata laba perbankan nasional pada 2010 sebagian besar diperoleh dari fee based income. Laba pada 2010 ditopang oleh kenaikan fee based income sebesar 54,1% pada 2010. Komposisi fee based income terhadap total pendapatan pada 2009 mencapai 38,66% dan meningkat menjadi 51,64% pada 2010.

Fenomena kenaikan dan makin besarnya fee based income di satu pihak adalah prestasi, tapi di lain pihak ada yang perlu dikhawatirkan. Ada persoalan ketika dipertanyakan peran perbankan nasional terhadap sektor riil dan pembangunan perekonomian dalam arti luas.
Ciri khas pendapatan perbankan seharusan berasal dari kredit. LDR yang hanya 72%, tetapi labanya besar, memberikan peluang tidak terjadinya financial deepening–dalam arti peran perbankan dalam menunjang pertumbuhan ekonomi. Meski masih kesimpulan sementara, tampaknya tiga tahun terakhir bank akan lebih banyak berperan menjadi financial payment agency ketimbang financial intermediary. Ini memang soal pilihan, tapi perlu dipermasalahkan kalau semua bank nantinya justru dominan sebagai financial payment agency. Esensinya mencari risiko terlalu kecil dan untuk menjual kredit kalau risikonya tinggi. Dalam jangka panjang dikhawatirkan naluri sebagai bank akan hilang atau paling tidak makin tidak dominan.

Kedua, harus diingat dan diawasi bahwa mengejar pertumbuhan harus tetap menjaga kualitas. Sebab, hanya dengan kualitaslah kepercayaan kepada industri perbankan akan makin kokoh. Dalam konteks menghadapai pasar bebas, baik secara kawasan, misalnya Association of South East Asian Nation (ASEAN), maupun global, pertahanan yang terbaik bagi sebuah bank adalah menjaga kualitas melalui tingkat kesehatannya. Sebab, bank yang sehat akan selalu dipercaya, sehingga akan terus mendapatkan kepercayaan dari masyarakat pada umumnya dan nasabah khususnya. Hanya itu yang harus diperhatikan.

Masih segar dalam ingatan kita bahwa dalam perjalanan perbankan nasional kita pernah mengalami optimisme yang berlebihan. Di saat sera booming tak pernah terpikirkan kemungkinan terjadi crash. Akhirnya, kita harus sangat mahal membayar krisis ekonomi dan perbankan pada 1998. Kemilaunya keberhasilan perbankan nasional pupus dalam sejenak ketika terjadi krisis.

Ketiga, peningkatan laba tanpa disertai peningkatan kesejahteraan akan menyimpan masalah tersembunyi. Mulai dari demotivasi–kurangnya rasa memiliki–sampai dengan tergodanya karyawan melakukan perbuatan tercela. Dampaknya, risiko operasional akan makin tinggi.

Risiko operasional dengan berbagai bentuk fraud, seperti penipuan, rekayasa transaksi, melakukan window dressing pembukuan, praktik bank dalam bank, kredit fiktif, dan penyelewengan simpanan, adalah embrio pembunuh berdarah dingin yang bisa mempercepat terjadi banking crash. Semoga catatan-catatan tersebut tidak benar dan tidak akan pernah menjadi kenyataan.

Krisna Wijaya (praktisi dan pengamat perbankan.)

0 komentar:

Poskan Komentar

Berikan Komentar terbaik anda, lebih dari satu komen no problem,sekarang zamannya bebas berekspresi.