29 Desember 2008

DABO SINGKEP Antara NOSTALGIA dan IMPIAN Dari LENSA DISKUSI KONSTRUKTIF

Siapakah ‘kita’ yang hadir di sini? Berada dalam ruang, waktu dan gerak yang tak sama tapi berpikir ke arah yang sama? Mengapa kita bisa seperti itu? Apakah karena kita berasal dari satu daerah yang sama ataukah karena kita tak mau dianggap bodoh jika hanya diam dan mengangguk kuat-kuat begitu satu ide dilontarkan: takut dianggap tak gaul alias tak berwawasan. Seperti itukah kita? Tentu saja tidak! Kita duduk di tempat berlainan, mengorbankan waktu dan sejuta kegiatan untuk memelototi layar komputer, menekan tuts demi tuts, merajut ide dan merangkai kata untuk saling berbagi - demi apakah semua itu? Apa yang ingin kita capai dengan semua pengorbanan itu?

Tiba-tiba banyak ide mengalir, banyak pemikiran bergulir dan hari-hari bergerak liar dalam diskusi demi diskusi tanpa tepi. Akan ke mana semua bermuara? Akan ke mana semua kata berlabuh dan akan ke mana kita palingkan wajah ketika letih singgah tak tertahan? Sebagian kata bergulir dalam nada-nada nostalgia, sebagian terajut dalam warna amarah dan dendam, pun tak kurang yang melayarkan kata-kata dalam ketakberdayaan akan sebuah kemenerimaan: satu-satunya yang bisa dilakukan. Tapi yang paling menggembirakan adalah masih banyak yang mendayung perahu impian. Mendayung perahu impian dalam imajinasi tentang sebuah pulau kecil yang disebut ‘small dot in the map’ dalam wacana konstruktif: indahnya andai small dot itu berubah menjadi red dot (meminjam istilah sutrisno saidi). Titik kecil berwarna merah: walau kecil tetap mampu untuk ikut bergerak dalam dinamika dunia yang tak ramah. Bukan pulaunya yang dituju tapi penghuninya. Apakah itu fokus dari semua bicara yang selalu bergema?

Tulisan ini hanyalah senarai dari sekian banyak pemikiran yang bergulir dalam beberapa bulan belakangan sejak website dan mailgroup bergulir di di tengah kehidupan rutin kita. Sebuah gairah dari dunia maya. Pembicaraan di ruang maya, yang coba untuk diwujudkan dalam realitas tak semu. Meskipun banyak sekali keterbatasan yang saya miliki, izinkan saya untuk ikut dalam revolusi pemikiran dan pembangunan ide-ide yang realistis.

DABO SINGKEP: IMPIAN ATAUKAH SEKEDAR NOSTALGIA?

Zaman keemasan memudar begitu cepatnya. Segala kemudahan berganti kegetiran dan keprihatinan yang terus menerus disesali. Tiap hari habis untuk meratapi puing-puing yang dulu begitu dibanggakan. Tak sadar bencana baru mengancam. Terjebak dalam romantisme masa lalu. Ketika pertama duduk diskusi kitapun sama: bernostalgia sambil reuni dengan teman dan sahabat lama.

Menyenangkan sekali. Tapi hidup adalah perjalanan yang tak pernah menunggu kita siap untuk menjalaninya. Berada di manakah kita seharusnya? Ada kata-kata bijak yang entah punya siapa: dalam hidup jangan pernah berhenti bermimpi karena ketika mimpi berakhir, hidup pun selesai. Jadi mari kita terus bermimpi tentang semua hal. Bermimpi tentang Dabo yang seperti Melbourne, Dabo yang seperti Malaysia dengan supermarket terapungnya ataupun Dabo yang kecil, tenang, tapi penuh manusia-manusia canggih dan luhur yang tak luntur karena materi.

Konsep mana yang akan kita pakai? Konsep berbasis nostalgia untuk mengejar dan mengembalikan kejayaan masa lampau? Ataukah konsep berbasis sejuta mimpi yang terus bergerak tak pernah usai? Kita bisa memilihnya dengan sangat bijak kalau kita tahu akan kemana melangkahkan kaki kita. Kita akan melangkah pasti jika kita punya visi dan profesionalisme yang tangguh. Punyakah kita kedua alat itu?

Paradigma nostalgia dan paradigma impian bukan suatu logika absurd. Mari kita bercermin dan bertanya pada hati kita: apa yang sebenarnya paling kita inginkan untuk memaknai sang hidup. Apa yang paling kita inginkan untuk berkarya sebagai bagian dari aktualisasi kehadiran kita sebagai sang khalifah di muka bumi ini? Dan mari kita duduk untuk saling mendengar ide naif, bombastis, revolusioner bahkan sampai pada ide-ide yang sarat ambisi pribadi. Semuanya wajar dan sah saja bukan? Mari kita saling merenung untuk memahami: saat ini ide-ide kita berada pada tataran apa? Tataran sekedar bernostalgia ataukah tataran impian-impian sederhana yang sangat mungkin diwujudkan jika kita punya goodwill untuk bergerak mewujudkannya.

APALAH ARTI SEBUAH NAMA

Bagian ini terilhami dari diskusi tentang nama organisasi yang akan dibentuk. Sebuah nama dalam pandangan saya tentu saja sangat berarti. Saya ingin mengajak berpikir dari sudut pandang yang lain: jangan pernah memandang rendah sebuah nama. Biarlah hanya William Shakespeare yang memandang nama tanpa harga dengan komentar: apalah arti sebuah nama. Kita tak perlu beramai-ramai latah mengikuti jejaknya.

Pada awal penciptaannya, malaikat mengakui eksistensi Adam karena kasus sederhana: Adam mampu menamai banyak materi sehingga karakteristiknya bisa dipahami dengan mudah. Apa makna yang dapat kita petik dari sini? Nama mencerminkan apa yang diwakilinya. Bukankah jutaan dollar dan milyaran rupiah sering dihabiskan hanya untuk menemukan satu kata yang mewakili eksistensi satu produk. Nama menjadi sangat penting karenanya dan dalam proses selanjutnya nama akan ikut menentukan eksistensi sesuatu: produk, situasi bahkan orang!

Apa hubungannya dengan organisasi yang akan dibentuk? Ide nama dan alasan penamaan organisasi yang dilontarkan oleh Sdr. Firdaus LN dari benua dingin yang tak menyejukkan (menurut beliau) dalam perspektif saya sangat representatif untuk mewakili eksistensi organisasi yang akan segera dibentuk (insyaallah). Mari kita tinggalkan mindset: menamai sesuatu hanya dari pertimbangan biar enak di lidah (melayu)!

Visi pengelolaan organisasi ini bukan seperti mengelola organisasi sosial apalagi panti asuhan. Dunia berubah setiap detik dengan kecepatan cahaya. Kita harus mengantisipasi sedini mungkin. Ketika suatu ‘brand’ kita keluarkan kita harus mempersiapkan brand itu untuk masa tak terhingga tahun. Substansi memang merupakan bagian yang penting, sehingga mengapa tak sekalian kita kemas substansi itu dengan bungkus yang juga bagus?

Bahasa Inggris adalah bahasa era globalisasi. Kita belum punya cukup power untuk berpaling dari arus globalisasi. Kalau kita bisa membiasakan lidah melayu untuk fasih melafalkan spelling Inggris setidaknya kita telah punya andil membuka cakrawala pikir orang-orang yang kelak akan bersinggungan langsung dengan organisasi ini. Dalam penafsiran saya, sdr. Firdaus tidak mempersiapkan organisasi ini hanya untuk setahun atau dua tahun tapi untuk eksis selama jutaan tahun, bahkan sampai kiamat dalam istilah beliau. Ide dasar ini sangat indah jika mampu kita tangkap dari perspektif profesionalisme. Salah satu wujudnya adalah persiapan kita untuk mengantisipasi perkembangan masa depan yang penuh ketidakpastian. Bukankah sebelum melihat isinya, publik akan menilai bungkusnya dulu?

Satu yang bisa saya ketengahkan adalah mari kita tinggalkan paradigma tradisional dalam mengelola sebuah organisasi. Kita tak harus mengesampingkan profit. Kita justru harus tegas memperhitungkan bagaimana proses ongoing organisasi ini dijalankan. Konsep countinous improvement setepat mungkin dapat dipakai dalam menjalankan organisasi ini. Dana adalah faktor terpenting selain komitmen pengelolanya. Dan organisasi ini jangan sampai menjadi seperti NGO yang menjamur akhir-akhir ini: menunggu belas kasih dari para donatur. Kita harus punya sumber dana operasional rutin yang tak pernah berhenti. Manajemen organisasi idealnya berbentuk manajemen organisasi bisnis. Tak ada volunteer yang mampu bertahan lama. Sebelum itu terjadi dan mengancam kontinuitas organisasi, kita harus berusaha untuk mengantisipasinya.

Kita memang hidup dalam dunia kata-kata. Walaupun semua ini hanyalah sebuah gagasan naif, ada kata-kata bijak yang tak bisa mudah diabaikan: pikiran yang diungkapkan selalu lebih mudah untuk didiskusikan dan dicari solusinya. Dari situlah saya mulai berkata-kata meski hanya sebutir debu diantara gagasan besar rekan-rekan semua. Langkah besar tak pernah tercipta tanpa langkah-langkah kecil bukan?

Mari kita satukan visi untuk menjadikan hari ini hari terbaik dalam sejarah hidup kita. Hari ini, kita tak perlu menunggu waktu-waktu yang tak pasti. Terima kasih untuk semua debat yang menyenangkan walaupun saya hanya baru bisa membacanya. Baru berada pada titik nol. Bravo untuk gagasan-gagasan para senior yang bahkan wajahnya tak saya ingat tapi sekali lagi: nama akan selalu dikenang walaupun tak pernah kenal orangnya. Karena itu nama menjadi sepenting udara!

0 komentar:

Posting Komentar

Berikan Komentar terbaik anda, lebih dari satu komen no problem,sekarang zamannya bebas berekspresi.