30 Desember 2008

Si Lancang Kuning (Cerita Rakyat Riau)

Alkisah tersebutlah sebuah cerita,
di daerah Kampar pada zaman dahulu
hiduplah si Lancang dengan ibunya. Mereka hidup dengan sangat
miskin. Mereka berdua
bekerja sebagai buruh tani.

Untuk memperbaiki hidupnya, maka Si Lancang berniat merantau. Pada suatu hari ia meminta ijin pada ibu dan guru ngajinya. Ibunya pun berpesan agar di rantau orang kelak Si Lancang selalu ingat pada ibu dan kampung halamannya. Ibunya berpesan agar Si Lancang jangan menjadi anak yang durhaka.
Si Lancang pun berjanji pada ibunya tersebut. Ibunya menjadi terharu saat Si Lancang menyembah lututnya untuk minta berkah. Ibunya membekalinya
sebungkus lumping dodak, kue kegemaran Si Lancang.
Setelah bertahun-tahun merantau, ternyata Si Lancang sangat beruntung. Ia
menjadi saudagar yang kaya raya. Ia memiliki berpuluh-puluh buah kapal
dagang. Dikhabarkan ia pun mempunyai tujuh orang istri. Mereka semua
berasal dari keluarga saudagar yang kaya. Sedangkan ibunya, masih tinggal
di Kampar dalam keadaan yang sangat miskin.
Pada suatu hari, Si Lancang berlayar ke Andalas. Dalam pelayaran itu ia
membawa ke tujuh isterinya. Bersama mereka dibawa pula perbekalan mewah
dan alat-alat hiburan berupa musik. Ketika merapat di Kampar, alat-alat
musik itu dibunyikan riuh rendah. Sementara itu kain sutra dan aneka
hiasan emas dan perak digelar. Semuanya itu disiapkan untuk menambah kesan
kemewahan dan kekayaan Si Lancang.
Berita kedatangan Si Lancang didengar oleh ibunya. Dengan perasaan
terharu, ia bergegas untuk menyambut kedatangan anak satu-satunya
tersebut. Karena miskinnya, ia hanya mengenakan kain selendang tua, sarung
usang dan kebaya penuh tambalan. Dengan memberanikan diri dia naik ke
geladak kapal mewahnya Si Lancang.
Begitu menyatakan bahwa dirinya adalah ibunya Si Lancang, tidak ada
seorang kelasi pun yang mempercayainya. Dengan kasarnya ia mengusir ibu
tua tersebut. Tetapi perempuan itu tidak mau beranjak. Ia ngotot minta
untuk dipertemukan dengan anaknya Si Lancang. Situasi itu menimbulkan
keributan.
Mendengar kegaduhan di atas geladak, Si Lancang dengan diiringi oleh
ketujuh istrinya mendatangi tempat itu. Betapa terkejutnya ia ketika
menyaksikan bahwa perempuan compang camping yang diusir itu adalah ibunya.
Ibu si Lancang pun berkata, "Engkau Lancang ... anakku! Oh ... betapa
rindunya hati emak padamu. Mendengar sapaan itu, dengan congkaknya Lancang
menepis. Anak durhaka inipun berteriak, "mana mungkin aku mempunyai ibu
perempuan miskin seperti kamu. Kelasi! usir perempuan gila ini."
Ibu yang malang ini akhirnya pulang dengan perasaan hancur. Sesampainya di
rumah, lalu ia mengambil pusaka miliknya. Pusaka itu berupa lesung
penumbuk padi dan sebuah nyiru. Sambil berdoa, lesung itu diputar-putarnya
dan dikibas-kibaskannya nyiru pusakanya. Ia pun berkata, "ya Tuhanku ...
hukumlah si Anak durhaka itu."
Dalam sekejap, turunlah badai topan. Badai tersebut berhembus sangat
dahsyatnya sehingga dalam sekejap menghancurkan kapal-kapal dagang milik
Si Lancang. Bukan hanya kapal itu hancur berkeping-keping, harta benda
miliknya juga terbang ke mana-mana. Kain sutranya melayang-layang dan
jatuh menjadi negeri Lipat Kain yang terletak di Kampar Kiri. Gongnya
terlempar ke Kampar Kanan dan menjadi Sungai Oguong. Tembikarnya melayang
menjadi Pasubilah. Sedangkan tiang bendera kapal Si Lancang terlempar
hingga sampai di sebuah danau yang diberi nama Danau Si Lancang.
(Disadur dari B. M. Syamsuddin, "Banjir Air Mata Si Lancang," Cerita
Rakyat Dari Riau 2, Jakarta: PT Grasindo, hal. 44-49).

5 komentar:

Anonim mengatakan...

Assalammualaikum,
maaf nih bang, kalau judul, sepertinya kurang tepat. Judul ceritanya bukan "Sri Lancang Kuning". Melainkan "Sri Lancang" saja. Jadi tidak memakai kata "kuning". Cerita Sri Lancang dengan cerita Lancang Kuning berbeda bang :). Sri Lancang itu tokoh cerita dari daerah Kampar, sementara Lancang Kuning itu cerita legenda armada kerajaan melayu Riau di perairan Bengkalis-Kep. Riau :). Tinjauan : www.ceritarakyatnusantara.com . Trmks.
Wassalammualaikum.

Anonim mengatakan...

kok mirip dengan cerita si MAlin KUndang yah..

Anonim mengatakan...

wah ini merubah fakta sejarah, ko jalur ceritanya dah sampe ke tanah minang yaaaa

Anonim mengatakan...

hahaha...................................................................... ceritanya lucu

blabla mengatakan...

ceritanya lutuna[lucu juga yahhhhhhhhhhhh hahahahaha

Posting Komentar

Berikan Komentar terbaik anda, lebih dari satu komen no problem,sekarang zamannya bebas berekspresi.