“…CICAK KOK MAU MELAWAN BUAYA…” demikian pernyataan Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol. Susno Duadji, Pernyataan Kepala Bagian Reserse Kriminal (Kabareskrim) Mabes Polri Komisaris Jenderal Polisi Susno Duadji membawa ingatan kita pada perseteruan antara polisi dengan Independent Commission Against Corruption (ICAC), lembaga pemberantasan korupsi di Hongkong. Lalu apa hubungannya Cicak dan Buaya. Cicak disini diibaratkan KPK, CICAK = CINTAI INDONESIA CINTAI KPK, sedangkan Kepolisian diibaratkan Buaya, sedangkan buaya darat ObamaPada tahun 1977, “KPK Hongkong” tersebut membongkar kasus korupsi Kepala Polisi Hongkong yang tertangkap tangan menyimpan aset sebesar 4,3 juta dollar Hongkong dan menyembunyikan uang 600.000 dollar AS. Kemudian menyebabkan ketegangan hubungan antara Lembaga Kepolisian dan Lembaga Korupsi di Hongkong, kemudian pengadilan memutuskan bahwa Kepala Polisi tersebut memang terbukti bersalah dan ICAC terbukti bersih, maka Hongkong pun kini dikenal sebagai negara yang relatif bersih dari tindak pidana korupsi. Ini semua tidak lepas dari kinerja ICAC.
Di Indonesia, ketika Indeks Persepsi Korupsi kita semakin membaik, berbagai pihak saat ini justru beramai-ramai menggembosi KPK.
Seperti Polri terlalu mendramatisasi pemeriksaan terhadap Wakil Ketua KPK, Chandra M Hamzah yang melakukan penyadapan telepon seluler Rani Juliani dan almarhum Nasrudin Zulkarnain (Kompas, 25 Juni 2009). Tentunya KPK mempunyai prosedur standar operasional ketat terkait penyadapan. KPK tak akan menyadap jika tak memiliki dasar yang kuat dan jelas kemudian ada lagi usaha lain terhadap penggembosan KPK seperti tertunda-tundanya pembahasan RUU Pengadilan Tipikor. Kelihatannya KPK benar-benar dimusuhi, walau tiada sang Ketua Antashari Azhar KPK tetap solid dan komit untuk mewujudkan pemberantasan terhadap Korupsi.
Komjen Susno Duadji kini juga tengah gerah karena telepon selulernya disadap oleh penegak hukum lain. Rekaman sadapan konon menunjukkan bahwa Kabareskrim Mabes Polri tersebut meminta imbalan sebesar Rp 10 miliar atas jasanya melancarkan pencairan uang PT Lancar Sampoerna Bestari terkait dengan kasus Bank Century (Majalah Tempo Edisi 6-12 Juli 2009). Dalam artikel yang sama di Tempo tersebut, Susno mengibaratkan dirinya dan institusinya sebagai buaya dan mengatakan institusi penyadap sebagai cicak, “…cicak kok mau melawan buaya…”, ujarnya.
Kita tahu apa dan siapa yang dimaksud sebagai cicak. Perumpamaan ‘cicak’ jelas merupakan upaya pengkerdilan dan melemahkan gerakan anti-korupsi. Bila untuk mendukung gerakan anti-korupsi harus menjadi ‘cicak’, marilah kita semua menjadi cicak. Anda cicak, saya cicak, kita semua cicak. Dan mereka buaya.
Sebelumnya berbagai organisasi, artis,penyanyi dan aktivis yang peduli terhadap upaya pemberantasan korupsi ini akan menggelar deklarasi Cicak (Cintai Indonesia ...
Dukung CICAK (Cintai Indonesia Cintai KPK) di Tugu Proklamasi.. Ayo teman-teman blogger kita juga dukung AKSI CICAK
Tulisan Berasal dari berbagai artikel kemudian diubah seperlunya dengan gaya bagasa sendir..







