15 September 2010

Bank Syariah Outlook 2008

Bank Syariah Outlook 2008

Tahun 2008 merupakan nuansa baru bagi perbankan syariah dalam membuka kinerja perbankan syariah nasional, meskipun BI menargetkan pertumbuhan Bank Syariah secara nasional akan mencapai 5 %, namun pertumbuhan 5 % tersebut haruslah didukung oleh pemerintah dan masyarakat secara keseluruhan. Pada tahun 2008 diperkirakan BRI akan menspins off unit Syariahnya dengan mengakuisisi Bank Artha Jasa, begitu juga dengan rencana merger Bank Danamon dan BII yang mengakibatkan terjadinya perubahan di unit syariah Bank Danamon dan BII Syariah yang diperkirakan akan dilakukan spin off. Perkembangan yang positif tersebut juga harus didukung dengan sistim permodalan yang kuat dimana pada tahun 2008 ini perbankan syariah sudah dipastikan akan banyak menerbitkan sukuk/obligasi syariahnya untuk menambah modal mereka, disamping itu juga proses akuisisi dan merger perbankan serta perubahan status menjadi Bank syariah pun akan mewarnai peta persaingan perbankan syariah secara nasional. Disamping itu juga masuknya bank-bank asing yang akan bermain di pasar perbankan syariah Indonesiapun diperkirakan akan semakin hangat, mudah-mudahan persaingan tersebut dilandasi dengan fastabaqul Khairat "berlomba-lomba berbuat kebaikan".
Kinerja perbankan nasional
Kinerja perbankan nasional sampai dengan 2007, mengalami perbaikan hal ini ditandai dengan pertumbuhan kredit sebesar Rp. 957 T atau sebesar 21.5 %, pertumbuhan asset juga mengalami kenaikan sebesar 17.75 % (y-o-y) atau sebesar Rp. 1.850,5 T, NIM sebesar 0.76 % walaupun belum cukup efektif dikarenakan LDR (Loan to deposit ratio) sebesar 56 %. Sedangkan CAR (Capital Adequate ratio) 19.96 %, walaupun diatas ketentuan Bassel Accord II sebesar 12 %, namun denga perhitungan baru di perkirakan perbankan nasional akan mengalami peurunan CAR sebesar 1.3 % -1.7 %.
Analisis Kinerja
Permodalan
Dari kinerja tersebut maka dipastikan akan banyak bank-bank yang akan melakukan merger dan akuisisi untuk memperkuat struktur permodalan, bagi bank-bank yang tidak dapat memenuhi ketentuan tersebut maka saham bank tersebut akan dijual dan dipastikan pemain asing akan semakin agresif memasuki pasar perbankan nasional.
Kredit/LDR
Tahun 2008 kredit perbankan nasional akan semakin baik hal ini ditandai dengan BI Rate yang semakin turun hingga Q1-Q2 2008, untuk pertumbuhan 21 %-24 % dipastikan akan terpenuhi target tersebut, Penyaluran kredit yang agresif tersebut dikarenakan pemain asing akan mengguyur pasar UKM Indonesia terutama sektor perkebunan, perdagangan/ritel, para pemain bank milik asing ini bahkan berani memberikan KTA (kredit tanpa agunan), sementara itu bank-bank nasional juga akan mengejar kondisi tersebut namun dengan keadaan yang lamban atau bisa dikatakan lebih hati-hati, namun pergerakan mereka akan agresif di Q2-Q3 sehingga pertumbuhan kredit akan menembus level 24 % bahkan bisa diatasnya.
Peluang dan Strategi Perbankan Syariah
Dengan kondisi yang ada meskipun perbankan syariah masih sebesar 1.72 %, namun dipastikan perbankan syariah akan diwarnai persaingan perang jaringan dan biaya administrasi yang murah serta perang fee based income.
Permodalan
Perbankan syariah akan dihantui dengan permodalan yang lemah dikarenakan agresifnya mereka meyalurkan kredit sehingga dibutuhkan penerbitan sukuk/obligasi syariah, bagi bank-bank CAR nya 8 % -10 % maka mau tidak mau harus meminta tambahan modal.
Kredit/NPL
Kredit yang agresif mengakibatkan overheating pada perbankan syariah 2008, hal ini wajar oleh sebab itu perbankan syariah harus melakukan restrukturisasi atau melakukan pencairan tambahan sehingga NPL mereka akan lebih kecil dibawah 5 %, sedangkan untuk kualitas kredit perbankan syariah harus mampu menerbitkan FRR (fiancial Risk ratig) hal ini berkaitan dengan sektor-sektor mana yang lagi booming dan sektor-sektor mana yang sebaiknya dihindari. Untuk mendapatkan laba-laba sebaiknya bank syariah harus bisa menspreading pembiayaan mereka yakni fasilitas musyarakah waad atau musyarakah mutanaqisah dengan skim murabahah
Pendanaan/Dana Pihak ketiga/fee based Income
Pendanaan/dana Pihak Ketiga
Untuk sektor pendanaan konsentrasi pada dana murah seperti giro dan tabungan juga menjadi incaran meskipun tidak mengabaikan dana dari deposito, Untuk memperoleh biaya administrasi dari nasabah maka perbankan syariah harus lebih kreatif dan menggunakan teknologi dengan memanfaatkan fasilitas ATM bersama, fasilitas bank induk, dan melakukan kerja sama antara perbankan syariah.
Kreatifitas membuat produk tabungan juga menjadi hal yag harus diperhatikan dengan memanfaatkan kerjasama dengan pihak lain seperti asuransi dan sebagainya . seperti produk investasi DPLK, replanting kebun, reksadana, dsb.
Jika bermain di sektor ritel maka biaya administrasi tabungan harus lebih murah, dikarenakan sektor yang dibidik adalah ritel.
Fee based Income
Perbankan syariah dalam mendapatkan fee based income juga harus melakukan kerja sama dengan instansi lain seperti telkom,telkomsel, indosat,dan provider lainnya untuk membayar payment point, pembayaran listrik, pembayaran uang kuliah dengan ATM C0 Branding, serta pembayaran gaji karyawan, pembayaran pajak eskpor import
Untuk daerah industri mendapatkan fee based dari surat referensi bank, surat dukungan bank juga semakin menarik serta Bank Garansi yang cukup ideal dimana dengan adanya otonomi daerah maka proyek-proyek akan semaki ramai didaerah.
Mudharabah muqayyadah untuk menjual produk ini memang harus ekstra ketat dikarenakan pemahaman masyarakat yang ada, bagi mereka yang berani mengambil resiko maka mudharabah muqayyadah lebih menarik daripada bermain saham di pasar modal, jika perbankan syariah ingin fokus kesini maka harus dilakukan sosialisasi terlebih dahulu untuk pemahamam kepada masyarakat karena produk tersebut memiliki resiko, namun memiliki return yang lebih baik daripada saham di pasar modal.

http://zulfikarmmunri.blogspot.com

0 komentar:

Poskan Komentar

Berikan Komentar terbaik anda, lebih dari satu komen no problem,sekarang zamannya bebas berekspresi.