15 September 2010

RAJA NENAS DUNIA DARI INDONESIA

PT Great Giant Pineapple memilih bermain di private label, agar tak bertarung frontal dengan raksasa dunia semacam Del Monte dan Dole. Dengan jurus ini, produsen nanas yang bermarkas di Lampung Tengah ini pun menjadi pemain nomor satu di dunia. / Tidak salah produsen nanas kalengan ini memilih nama PT Great Giant Pineapple (GGP). Perusahaan yang memiliki perkebunan di Terbanggi Besar 77, Lampung Tengah ini sejak tahun 2004 sampai sekarang tercatat sebagai tiga besar produsen nanas kalengan di dunia. Bahkan saat ini, GGP merupakan produsen nanas kalengan private label terbesar di dunia dengan pangsa pasar 17%. Merambah pasar ekspor sejak 1984, sampai saat ini mayoritas produk GGP diekspor ke Eropa, Amerika Serikat (35%), serta ke Jepang dan negara lainnya (5%). Tahun lalu, nilai ekspor GGP mencapai US$ 107.135.529. Sekarang, GGP sudah hadir di 50 negara. Selain itu, GGP juga merupakan produsen yang daerah penanamannya terbesar di dunia. "Pesaing kami seperti Del Monte memang mempunyai lahan yang lebih luas, tapi tersebar dalam dua-tiga daerah perkebunan," ungkap Lucy Willar, Manajer Pemasaran GGP. Produsen nanas kalengan yang berkantor pusat di Plaza Chase Lantai 20, Jl. Jend. Sudirman, Jakarta ini memiliki perkebunan nanas seluas 80 ribu hektare yang berada dalam satu areal perkebunan. Menurut Lucy, dari sejak berdiri, produksi dan sistem produksi GGP terus-menerus digenjot ke arah yang lebih baik. Ketika awal berdiri perusahaan ini hanya memiliki areal perkebunan nanas seluas 15 ribu ha minus lini produksi. Tahun 1984 kami mulai berproduksi dengan empat lini produksi, dan ketika itu kebun kami sudah meluas jadi 35 ribu ha, ujarnya. Pada akhir tahun yang yang sama, GGP mengapalkan produknya ke luar negeri untuk pertama kalinya. "Ketika itu Jerman yang menjadi target pasar kami," kata Lucy. Tahun 1986, sistem produksi diperbaiki lagi dengan menambah satu lini pemrosesan, dan satu evaporator untuk membuat konsentrat jus nanas. "Untuk konsentratnya sebagai salah satu waste yang akan kami tampung", Lucy menjelaskan. Selanjutnya tahun 1992 sampai 1997 GGP kembali menambah luas perkebunan (plantation), lini pemrosesan dan evaporator. hJadi semua penambahan itu terjadi dalam 15 tahun,h lanjutnya. Diungkapkan Lucy, keunggulan GGP terletak pada teknologi dan ketatnya prosedur proses produksi yang dijalankan. "Kekuatan pertama kami terdapat dalam hal irigasi," kata Lucy seraya menjelaskan, GGP merupakan perkebunan pertama yang diirigasi. "Kami punya sprinkle untuk mencegah kekeringan saat kemarau," ujarnya sambil menunjukkan slide komputer yang bergambar sebuah traktor besar sedang menyemprotkan air di areal perkebunan nanas melalui pipa panjang di sisi kiri dan kanannya. Karena faktor inilah GGP bisa memiliki produk yang konsisten mutunya, dan bisa terus mengurangi dampak kekeringan di musim kemarau bagi perkebunan nanasnya. Keunggulan kedua adalah proses produksi GGP yang terintegrasi penuh dalam satu area, mulai dari penanaman sampai pengiriman ke produsen. "Kami fully integrated dari menanam sampai ke tangan produsen. Dari hulu ke hilir. Jadi buahnya bisa dikontrol kualitasnya hingga sampai ke rak supermarket," paparnya. Keunggulan ketiga terletak pada pemanenan yang berkesinambungan sepanjang tahun. "No single day without pineapple," kata Lucy bangga. Karena itulah GGP bisa memenuhi permintaan konsumennya secara konsisten.
Keunggulan lainnya, dijelaskan Lucy, pihak GGP juga tercatat sebagai satu-satunya perkebunan nanas di dunia yang bersertifikasi ISO 9001:2000. "Hampir semua sertifikat keamanan dan proses produksi kami punya karena masing-masing negara berbeda standarnya. Jadi istilahnya kami ini kolektor sertifikat, hahaha," ujarnya tertawa sambil menunjukkan daftar sertifikat yang dimiliki GGP, dari ISO sampai sertifikat Kosher yang menandakan kehalalan makanan bagi umat Yahudi. Lucy juga mengklaim perkebunannya ramah lingkungan. Hampir zero waste management. Ia menjelaskan, 24% untuk nanas kalengan; 40% untuk jus; 16% untuk clarified pineapple juice atau gula; dan kulit nanasnya untuk cattle food. "Jadi zero waste," ujar Lucy. Selain itu, GGP juga membangun long-time relationship dengan konsumen. Tak heran banyak mitranya yang setia menerima pasokan dari GGP sejak 1984. "Bahkan sampai expanding jumlah permintaannya," tambahnya. Hingga kini merek nanas dunia seperti Libbies, Tasco dan lain-lain mendapat pasokan dari GGP. Saat ini fokus GGP memasok nanas kalengan. Untuk riset dan pengembangan, lanjut Lucy, pihaknya hanya fokus pada nanas. "Hasilnya, kami juga membuat tropical fruit cocktail meski hanya sedikit," katanya. Ketika dikirim, nanas-nanas yang sudah dikalengkan itu sudah diberi kemasan dan merek sesuai dengan permintaan konsumen. "Cetak label juga di sini. Film negatifnya saja yang dikirim ke sini. Sampai ke produsen mereka tinggal menjual. Jadi barangnya sama tapi mereknya saja yang berbeda. Yang beda hanya pilihan produknya, apakah yang pilihan atau standar, "Lucy menguraikan. Memang, GGP juga mengembangkan merek sendiri bagi produsen yang tidak memiliki merek. Namun, kapasitasnya sangat kecil, hanya 5% dari total produksi, "Kami punya merek Duta untuk diekspor. Jadi konsumen yang tidak punya merek sendiri, kami perbolehkan memakai merek kami. Produksi Duta cuma 5% dari total produksi. Duta itu artinya kan ambasador. Jadi ini duta Indonesia," tuturnya sambil menambahkan bahwa GGP juga memasok nanas ke Pepsi Co dan Coca-Cola. Lucy mengaku GGP memang sengaja tidak agresif mengembangkan merek. "Karena satu, masalah investasi. Perlu uang, maaf uang," katanya. Dalam pandangannya, perusahaan di mana pun kalau sudah menyangkut urusan uang pasti paling sulit. "Dengan membuat merek sendiri perlu beriklan setiap hari di seluruh dunia, itu butuh banyak effort dari sisi uang dan strategi," ungkapnya. Menurut Lucy, dengan mengembangkan merek sendiri, maka setiap negara perlu dipelajari kecenderungannya dari waktu ke waktu. "Kalau kami ingin jadi yang terbesar dari sisi merek, rasanya sulit untuk menyaingi Dole dan Del Monte. Mereka sudah ratusan tahun berada di pasar, meski kualitasnya sama," tutur Lucy seraya menambahkan bahwa GGP pernah juga mengemas untuk Dole dan Del Monte. Akhirnya saat manajemen mengambil keputusan untuk menjadi terbesar di kancah global, mereka memilih bermain di label privat. "Kami pakai yang belum di-tapped orang, yakni private label. Pasar ke depan akan lebih banyak ke private label," ujarnya. Tampaknya pilihan itu cukup tepat. Nilai ekspornya terus meningkat dari tahun ke tahun, meski terkadang berfluktuasi lantaran terpengaruh harga nanas global. Sebagai gambaran nilai ekspor GGP tahun 2001 US$ 71.447; tahun 2002 (US$ 91.039.228); tahun 2003 (US$ 78.294.526); tahun 2004 (US$ 103.393.107), tahun 2005 (US$ 111.109.819), dan 2006 (US$ 107.135.529). Lucy mengaku, "Kami mempunyai konsumen yang loyal sekali
Ia mengungkapkan, dalam mengelola perkebunan, GGP berinteraksi dengan masyarakat sekitar. "Ada interaksinya, perkebunan punya kami, tapi pekerja dari sekitar. Kami juga memberi mereka kesempatan menanam, jadi seperti PIR (Perkebunan Inti Rakyat ? Red.)," ia menguraikan. Selain itu, GGP lantaran memproduksi kulit nanas untuk makanan ternak, sapi khususnya, juga mengimpor ternak sapi yang lantas dikelola bersama masyarakat. "Karena kulit nanas memerlukan sapi. Sebagian sapi kami impor, sebagiannya kami bagikan ke mereka. Jadi kami kumpulkan sapinya dan diberi kulit nanas karena produksinya terlalu besar. Jadi banyak usaha kecil yang hidup," Lucy menjabarkan. Contoh lain kerja sama dengan masyarakat adalah dalam pembuatan tropical fruit cocktail yang memerlukan campuran buah pepaya. "Kami beri mereka teknologi menanam yang baik, dan buah pepayanya kami beli dengan harga 20% lebih tinggi dari pasaran. Kalau kami beli dengan harga lebih rendah, nanti kami tidak kebagian dong, hahaha," ujar Lucy sambil tertawa kecil. Saat terjadi resesi ekonomi di Indonesia tahun 1998, lanjutnya, setiap keluarga di sekitar perkebunan yang kebanyakan adalah karyawan GGP diberi paket sembako gratis. Upaya kepedulian tersebut, menurut Lucy, supaya ada rasa belong to the company. Dan, ternyata hasilnya tak sia-sia. Saat keruntuhan rezim Orde Baru yang diikuti dengan aksi kekerasan seperti penjarahan dan pembakaran, para pekerja GGP melindungi aset yang dimiliki perusahaan. "Mereka justru melindungi kami. Kontainer kami juga dilindungi sampai pelabuhan, itu kan artinya mereka merasa belong to the company," ungkapnya. Saat ini GGP memiliki 12 ribu karyawan termasuk pekerja kebun, dan meningkat menjadi 16 ribu orang saat permintaan mencapai puncaknya atau musim panen. Lucy menyebutkan, seluruh tim manajemen dipegang oleh orang Indonesia di bawah kendali Husodo Angkosubroto sebagai Direktur Utama. "Kecuali satu orang di kebun, orang Taiwan, tapi sebentar lagi ilmunya sudah diturunkan," kata Lucy. Menurutnya, tak sedikit karyawan yang sudah mengabdi di GGP selama 10-25 tahun. "Termasuk saya," imbuhnya

2 komentar:

Anonim mengatakan...

ggp go...

Anonim mengatakan...

jaya terus pertanian indonesia

Poskan Komentar

Berikan Komentar terbaik anda, lebih dari satu komen no problem,sekarang zamannya bebas berekspresi.